Jagad Cilik Jagad Gêdhé

Bumi dan langitKU tidak bisa menampungKU, namun hati hambaKU yang beriman bisa menampungKU, begitu firman Allah dalam hadits qudsiy yang saya tahu.

Itulah kehebatan manusia, sebaik-baik ciptaannya Gusti Allah. Secara fisik, manusia sangatlah kecil ukurannya bila dibandingkan keseluruhan alam semesta, namun secara metafisik, alam semesta adalah bagian kecil dari diri manusia, di mana Gusti Allah tak akan tertampung di alam semesta ciptaannya, namun justru bisa tertampung di hati manusia. Alam semesta (bumi dan langit) merupakan bagian dari manusia yang menjadi kholifahnya Gusti Allah.

Dari ilmu titén yang merasakan hubungan antara Tuhan, manusia dan alam semesta itulah orang Jawa mengungkapkannya dalam bahasa yang sederhana namun penuh kedalaman makna dengan istilah : Jagad Cilik [dunia/semesta kecil] dan Jagad Gêdhé [dunia/semesta besar] atau dalam bahasa lain disebut sebagai mikrokosmos [keberaturan kecil] dan makrokosmos [keberaturan besar].

Secara umum manusia diistilahkan sebagai jagad cilik, namun menurut saya manusia juga bisa diistilahkan sebagai jagad gêdhé tergantung dari posisi mana manusia itu sedang berada. Pada posisi di alam lahir yaitu alam yang tampak atau kasat mata, manusia merupakan jagad cilik dan alam semesta merupakan jagad gêdhé. Namun pada alam batin adalah sebaliknya, manusia adalah jagad gêdhédan alam semesta adalah jagad cilik, tentu saja ini berlaku untuk manusia yang sudah dalam tahap jumbuhing kawulo lan Gusti atau wushul atau bersatunya penyaksian terhadap Gusti Allah, sehingga dunia atau semesta menjadi kecil baginya sebab yang sejatinya besar hanyalah Gusti Allah, ke mana pun dia menghadap yang tampak hanyalah “wajah”nya Gusti Allah [QS 2:115].

Dalam salah satu pupuh gambuh digambarkan : jembaring samudragung, tanpa tepi anglangut kadalu, suprandene makasih gung manungsa iki, alas jurang kali gunung, neng raganira wus katon [luasnya samudra raya, tiada bertepi sejauh mata memandang, tetapi masih besar manusia ini, hutan jurang sungai gunung, di dalam diri manusia sudah kelihatan ~Serat Cipto Waskitho~].

Pakubuwono IV menegaskan dalam salah satu baris tembangnya : tana prabedanipun, jagad katon lan jagadireku [tak ada bedanya, dunia yang terlihat mata dan dunia yang berada dalam dirimu].

Nah berhubung saya sendiri juga belum memahami apa sih sejatinya wushul itu, maka dalam tulisan ini yang dimaksud dengan jagad cilik adalah manusia.

Nafas Kehidupan

Para sesepuh dahulu mengajarkan bahwa penghubung antara jagad cilik dan jagad gêdhé adalah nafas sebab nafaslah penanda adanya kehidupan dalam diri manusia. Sebab itu, menyadari nafas adalah hal yang sangat penting. Menyadari nafas berarti menyadari kehidupan dan menyadari kehidupan berarti menyadari yang memberi hidup. Maka bernafas tak sekedar bernafas saja, melainkan harusnya tiada tarikan atau pun hembusan nafas yang terlewat dari iringan dzikir kepadaNYA. Dengan dzikir yang éling / ingat / sadar / taqwa, hati menjadi tenang walau itu bukan tujuan. Dengan hati yang tenang biasanya kemuliaan akhlaq mulai mengejawantah, perasaan pun menjadi nyaman dan pikiranpun menjadi terang.

Seseorang yang hatinya tenang, perasaannya nyaman dan pikiranya terang, bisa ditandai dari nafasnya. Nafasnya biasanya dalam dengan ritme yang teratur lambat. Coba bandingkan misalnya dengan orang yang sedang dikuasai amarah, maka akan terlihat sekali perbedaannya, sebab orang yang sedang dicengkeram amarah biasanya nafasnya pendek dengan ritme yang cepat. Apa yang terjadi di dalam diri manusia atau di jagad ciliknya itu akan dipancarkan ke jagad gêdhé dan direspon dengan memperkuat getarannya untuk kemudian dipancarkan lagi ke segala arah termasuk di kembalikan lagi ke jagad cilik yang menjadi sumber pancarannya.

Kalau jagad cilik terkendali pancaran getarannya, maka jagad gêdhé pun akan demikian adanya sebab jagad gêdhé hanyalah merespon atau meresonansi getaran yang ada di dalam jagad cilik. Jagad gêdhénya manusia itu adalah semua yang ada di luar manusia, jadi bisa manusia lain, bisa juga udara atau air atau yang lainnya, bisa juga rejekinya, kesehatannya dan seterusnya.

Jadi bagi seseorang yang belum terampil mengendalikan dirinya, perasaanya atau pun pikirannya tetapi ingin berbenah diri menjadi lebih baik, bertambah baik dan semakin baik, salah satu metodenya adalah dengan mendisiplinkan diri untuk menyadari nafasnya namun bukan untuk mengingat nafas itu sendiri melainkan dalam rangka merasakan kehadiran Gusti Allah, menyadarinya dan mengingatnya setiap waktu sejumlah bilangan nafasnya.

Persangkaan

Setahu saya dalam sebuah Hadits Qudsiy, Gusti Allah berfirman : ”AKU tergantung prasangka hamba-KU terhadap-KU, dan aku bersamanya jika ia mengingat-KU, jika ia mengingat-KU di dalam hatinya maka aku mengingatnya di dalam hati-KU, dan jika ia mengingat-KU dalam suatu kelompok maka AKU mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka, dan jika ia mendekat sejengkal maka AKU mendekat padanya sehasta, jika ia mendekat sehasta maka AKU mendekat padanya sedepa, dan jika ia mendekat pada-KU dengan berjalan maka AKU mendekat padanya dengan berlari.”

Wow… itu merupakan suatu informasi yang luar biasa membahagiakan sekaligus mengerikan. Membahagiakan, sebab setiap kondisi kebaikan kita akan direspon Gusti Allah dengan lebih baik dan lebih cepat juga, mengerikan, sebab saya kira berlaku untuk hal yang sebaliknya. Apa yang diinformasikan oleh Gusti Allah dalam hadits qudsiy tersebut, menurut pemahaman saya, Di-bekerja-Kan Gusti Allah dalam sebuah mekanisme otomatis yang diistilahkan oleh orang Jawa sebagai jagad cilik dan jagad gêdhé yang beberapa di antaranya sudah saya tuliskan di paragraf sebelumnya.

Kata kuncinya adalah prasangka, ingat, hati dan kelompok. Apa yang diberikan Gusti Allah kepada makhlukNya pasti melebihi dari apa yang telah dipersembahkan oleh makhlukNya.

.:: Ingat Gusti Allah bukan hanya dalam pengertian misalnya ketika kita ditanya, “Namamu siapa ?”, kemudian kita menjawabnya, “Fulan.”. Kita menjawab dengan menyebutkan nama kita karena kita memang ingat tentang nama kita. Itu namanya mengingat [recall memory] karena ada suatu sebab, bukan berkekalan dalam kesadaran setiap saat bahwa nama kita Fulan. Ingat Allah lebih pada konteks ingatnya orang yang sedang jatuh cinta, jadi berkekalan kesadaran akan yang dicintai. Ingat Gusti Allah itu letaknya di hati, sebab hatilah yang sejatinya rumah Allah yang dimampukan menampungNYA, maka saat seorang manusia ingat kepada Gusti Allah, berarti Gusti Allah sedang “menempati” rumahNYA atau dalam bahsa lain, Gusti Allah sedang mengingatnya juga. Inilah mekanisme otomatisnya, bahwa saat jagad cilik berselaras dengan Tuhannya, jagad gêdhé merespon dengan mendukung secara total upayanya, sehingga seakan-akan kehidupannya diliputi banyak kemudahan, bukan karena soalnya yang kemudian dimudahkan tetapi karena kemampuannya dilebihkan melampaui soal yang disediakan untuknya.

.:: Hati dan akhlaq

Hati yang éling / ingat / sadar / taqwa / berselaras dengan Gusti Allah akan melahirkan ekspresi kemuliaan akhlaq. Misalnya akhlaq syukur, bisakah keluar dari hati yang lalai ? Tentu saja tidak. Jadi, semakin éling / ingat / sadar / taqwa hatinya maka akan semakin mulia akhlaqnya, semakin sabar, semakin syukur, semakin ridho, semakin tawadhu dan seterusnya. Saat jagad cilik mulia ekspresinya, maka jagad gêdhé akan merespon dengan “tunduk” padanya dalam batas-batas tertentu.

.:: Pikiran, perasaan dan persangkaan

Apa perbedaan antara pikiran dan perasaan ? Kalau saya disuruh menjawab, saya akan jawab tidak tahu karena memang tipis bedanya antara pikiran dan perasaan. Jawabannya pun saya kira merupakan jawaban yang subyektif, sebab masing-masing orang pasti mempunyai argumentasinya sendiri-sendiri. Inilah pentingnya ilmu titén, bahwa setiap orang harus menggunakan rahsanya untuk niténi dirinya sendiri agar ilmunya tidak sekedar tahu tentang obyek ilmunya tetapi kalau bisa juga merasakan obyek ilmunya atau bahkan seakan-akan menjadi obyek ilmu itu sendiri.

Untuk memahami perbedaannya, menurut saya kira-kira seperti ini : urutkan mulai dari sumbernya.

Hatinya ingat sama Gusti Allah sehingga tenang. Salah satu buahnya adalah munculnya akhlaq syukur. Saat syukurnya keluar, biasanya seseorang akan bahagia. Nah, bahagia itu di perasaan atau di pikiran ? Saya kira di perasaan. Saat perasaan bahagia, bagaimana kondisi pikiran ? Kondisi pikiran saat perasaan bahagia saya kira salah satunya adalah jernih.

Contoh sebaliknya, saat hati lalai dari Gusti Allah, bisakah tenang ? Saya kira tidak bisa. Hati yang kacau tidak akan mungkin berbuah akhlaq yang mulia, yang muncul malah akhlaq tercela, seperti misalnya kufur. Saat kufur, bisakah perasaan bahagia ? Saya kira tidak bisa, bisanya galau. Dalam kondisi perasaan galau, pikiran pun akan kacau.

Jadi, menurut saya, kualitas pikiran itu tergantung dari kualitas perasaan dan tidak untuk sebaliknya. Baiknya perasaan akan membaikkan pikiran, namun tidak untuk sebaliknya. Perasaan adalah persangkaan kita pada Gusti Allah yang akan dibuktikan kepada kita olehNYA. Mekanisme otomatisnya adalah bahwa saat jagad cilik memancarkan getaran perasaan yang baik, maka jagad gêdhé akanmerespon dengan melipatgandakan getaran perasaan itu menyebarkannya ke segala penjuru dan mengembalikan lagi kepada jagad cilik, berlaku juga sebaliknya. Baik yang kita rasakan, baik pula yang akan kita terima. Buruk yang kita rasakan, buruk pula yang akan kita terima.

.:: Kelompok itu saling menguatkan antar anggota kelompoknya. Kalau baik, akan saling menguatkan kebaikannya, demikian juga kalau buruk akan semakin mengutkan pula keburukannya. Kalau mengingat Gusti Allah dalam kelompok, maka Gusti Allah pun akan mengingat dalam kelompok yang lebih baik. Baiknya jagad cilik yang satu bertemu dengan baiknya jagad cilik yang lain mempunyai pancaran getaran kebaikan yang lebih kuat dan akan direspon jagad gêdhé akan merespon dengan melipatgandakan getaran kebaikan itu menyebarkannya ke segala penjuru dan mengembalikan lagi kepada masing-masing  jagad cilik. Lha kalau sekarang yang buruk berkelompok seperti misalnya korupsi berjamaah dengan dibuatkan aturan yang legal ??? Apa jadinya ???

Contoh kasus

~ Jagad gêdhé -> rejeki. Seorang pimpinan perusahaan mengatakan kepada seluruh anak buahnya pada akhir tahun, bahwa perusahaan belum bisa membagikan bonus karena mengalami kerugian. Kenyataannya sebenarnya perusahaan untung. [Hatinya lalai, akhlaqnya kufur, merasa kekurangan jika membagi bonus kepada anak buahnya, pikiran pun memutuskan membuat pernyataan kerugian] Getaran perasaan kekurangan dan pikiran merugi memancar ke jagad gêdhé, direspon, diperkuat dan dikembalikan lagi. Akibatnya pada tahun-tahun berikutnya perusahaan benar-benar merugi hinga pada titik yang ekstrem.

~ Jagad gêdhé -> peralatan elektronik. Ada seorang menjadi pelanggan dari sebuah layanan jasa digital printing dating dengan perasaan galau dan pikiran kacau, karena tergesa-gesa oleh suatu keadaan yang sebenarnya salahnya sendiri yang tidak mau prepare.  Bawaanya marah melulu, ingin cepat dan didahulukan. Bukannya malah cepat selesai malah lambat, sebab pancaran getaran perasaan dan pikirannya begitu buruk sehingga mempengaruhi peralatan elektronik yang melayaninya. Tiba-tiba saja koneksi intranetnya terputus, komputernya hang, printernya ngadat dan sebagainya.

~ Jagad gêdhé -> manusia lain. Seseorang yang ringan tangan, mengabdikan dirinya untuk melayani orang laian sebatas kemampuan dan kewenangannya. Ternyata, di manapun dia berada, saat mengalami kesulitan pasti ada saja yang memberikan perotolongan, bahkan dari orang yang tidak dikenal sekalipun.

~ Silahkan Panjenengan amati sendiri berbagai peristiwa di sekitar Panjenengan yang merupakan mekanisme otomatis jagad cilik dan jagad gêdhé.

UJI COBA

Sebagaimana pada catatan sebelumnya Ahsanu Taqwiim saya ingin mengajak Panjenengan membuktikan sendiri bahwa perasaan dan pikiran Panjenengan bisa mempengaruhi alam secara nyata, bisa dilihat mata kepala.

.:: Uji Coba Pertama

Lihat ke langit, lihatlah awan yang berarak di sana. Pilih salah satu gumpalan awan. Tenangkan hati dengan menyadari keluar masuknya nafas beberapa saat. Tenangkan pula perasaan, pandang awan tersebut, kemudian niatkan dan bayangkan saja di pikiran bahwa awan tersebut terbelah-terpisah atau bisa juga Panjenengan niatkan dan bayangkan awan tersebut berlubang. Pandangi terus dengan tenang, pasrah dan tidak usah memaksakan harus terjadi.

Insya Allah, awan tersebut akan terbelah atau berlubang sesuai yang Panjenengan niatkan. Semakin tenang, semakin pasrah dan tidak memaksakan harus terjadi, maka akan semakin cepat terjadinya.

.:: Uji Coba Kedua

Ambil HP Panjenengan, pilih salah satu nama dan nomer yang tersimpan di HP tersebut yang mempunyai kedekatan emosional dengan Panjenengan, nama yang Panjengan pilih juga harus punya nomor Panjenengan di HPnya dan yang harus terpenuhi adalah bahwa orang itu masih hidup he… he… he… Tenangkan hati dengan menyadari keluar masuknya nafas beberapa saat. Tenangkan pula perasaan, bayangkan seseorang tersebut di pikiran beberapa saat dan niatkan agar seseorang tersebut menghubungi Panjenengan melalui SMS atau pun telepon. Setelah itu, pasrah, lupakan dan jangan memaksa untuk terjadi, lalu lihatlah apa yang akan terjadi. Beberapa kawan yang saya ajak melakukan uji coba tersebut ada yang kurang dari lima belas menit langsung disms, ada yang empat jam kemudian, ada yang berselang beberapa jam di hari yang sama dan ada juga yang baru keesokan harinya.

He… he… he… sebenarnya masih banyak uji coba lain, tapi tidak usahlah saya sampaikan, nanti Panjenengan malah asyik bermain-main dengan itu malah lupa dengan esensinya dan lagi bisa-bisa Panjenengan nanti malah jadi “dukun”.

-----------

Dari kedua uji coba sederhana itu, saya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya meski kita tidak menyadarinya,  selalu ada interaksi dan juga koneksi antara jagad cilik (diri kita : hati, perasaan, pikiran dan tindakan) dan jagad gêdhé (semua yang ada di luar diri kita). Jagad gêdhé hanya meresonansi apa yang terjadi pada jagad cilik. Maka mengapa kita enggan memilih menjaga hati, perasaan, pikiran dan tindakan kita untuk hal yang baik-baik saja ? Hal yang buruk tidak hanya merusak keharmonisan alam semesta, bumi dan langit yang kita tempati, namun yang paling dekat sesungguhnya hati, perasaam, pikiran dan tindakan yang tidak terjaga hanya akan merusak kehidupan kita sendiri.

[QS 10:44] Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.

Dari beberapa hal yang telah saya sampaikan pada catatan ini maupun catatan sebelumnya, menurut saya kira-kira kita semua dapat niténi bahwa saat alam mulai menggeliat dengan berbagai bentuknya berarti akumulasi pancaran getaran hati, perasaan, pikiran dan tindakan manusia yang lalai kepada Gusti Allah sudah sedemikian parah sehingga jagad gêdhé bereaksi untuk menyeimbangkan kembali dirinya agar harmonis. Namun saat suatu kaum di suatu wilayah sudah sedemikian “kacau”nya tetapi alam belum juga menggeliat, dapat dititéni juga bahwa biasanya di wilayah itu masih ada manusia-manusia utama yang menjadi kekasihnya Gusti Allah, hatinya tak berjarak dari Tuhannya, sehingga alam masih setia mengorbit padanya. Saat ketentuan Gusti Allah sudah sampai saatnya, maka biasanya manusia-manusia utama kekasihnya Gusti Allah tersebut akan meninggalkan kaum di wilayah itu dan jadinya alam pun mulai menunjukkan geliatnya.

Akhirnya, setiap diri kita memang seharusnya selalu éling lan waspädä [ingat/sadar/taqwa dan waspada]. Apa maksud dari éling lan waspädä itu, jangan ke mana-mana, tetaplah waspada hahahahahahaha…….

Nanti saya lanjutkan lagi.

Bolong

Bolong kuwi penak | lubang itu enak. Ibarat gelas, dinding silindernya tetap ada namun dasarnya berlubang, lalu apa jadinya, tent nya tidak dapat menampung air. Pada sisi fungsi gelas sebagai tempat untuk menampung m numan, memang terlihat bahwa gelas akan kehilangan fungsinya. Namun jika dilihat pada sisi luabangnya itu, maka bisa jadi daya tampunggelas terhadap air malah menjadi tidak terbatas. Apakah malah tidak sia-sia menampung air dalam gelas berlubang ? Sepertinya memang begitu, tapi akan lain kenyataannya saat di bawah gelas berlubang itu sudah disiapkan sebuab bak besar, bukankan daya tampungnya semakin besar juga. Apalagi saat di bawah gelas itu terletak sebuah tandon air besar atau danau ataubahkan samudera.

----------

Gelas berlubang bagai manusia dengan keluasan jiwa. He... he... he... maksa ya ? Ya terserah saya to lha wong yang nulis saya, kalau misalnya Panjenengan tidak setuju ya nulis saja sendiri...

Gelas berlubang bagai manusia dengan keluasan jiwa, perasaannya akan sangat sulit disakiti, sebab hal-hal yang tak mengenakkan tak pernah berdiam lama dalam dirinya, melainkan diteruskan, direlakan dan dikembalikan semua pada DIA yang menciptakannya. Dia tak pernah terluka tak juga pernah melukai, seperti udara yangtak tertebas oleh pedang yang seberapa pun tajamnya.

Gelas berlubang bagai manusia yang telah menyatu dan berselaras dalam kehendak DIA yang menciptakannya. Baginya, terhadap siapa pun selalu dalam kesadaran aku ya kamu - kamu ya aku, maka dia akan terus bertepa slira, memuliakan siapa pun atau apa pun, sebab semua sejatinya sama, makhluk dari DIA yangmenciptakannya. Ini yang ngeri. Saat ada yang menyakiti manusia model ini, dimana kesadarannya aku ya kamu - kamu ya aku yang dia rela menerima apa pun tanpa kontra, maka yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa seseorang  yang menyakitinya berarti juga menyakiti dirinya sendiri, sehingga niatan buruk apa pun atauperbuatan buruk apa pun yang ditujukan kepada manusia bolong ini akan mengenai dirinya sendiri, cepat atau lambat namun pasti.

Dan begitulah dalam hal yang lain.

----------

Ini hal lain, namun juga masih berkaitan dengan bolong.

Saat usia beranjak tua [koyok aku], biasanya mereka yang kukenal mulai berpantang makanan tertentu, bukan hanya mengurangi tetapi malah sama sekali tidak memakannya.

Sebenarnya, jareku [jangan percaya jareku], hal tersebut tidak perlu dilakukan. Memang secara ilmu kesehatan ada jenis-jenis makanan tertentu walau enak tapi merugikan kesehatan, tetapi sekali lagi ini menurut saya, asalkan dalam takaran cukup atau tidak berlebihan, tidak akan merugikan kesehatan walau usia sudah beranjaktua.

Caranya adalah dengan mengakses frekuensi bolong itu sendiri, bahwa saya sebenarnya tidak ada / bolong, begitu pun makanan apa pun itu juga sebenarnya tidak ada / bolong, maka tentunya yang tidak ada tidak akan bisa mempengaruhi yang tidak ada pula. Prakteknya bagaimana ? Bukankah saat makan ada doa makan ? Yawaktu doa itu atau minimal saat basmalah itulah frekuensi kita harus meningkat bersama frekuensi makanan atau minuman itu sendiri sehingga frekuensinya sama.

BISMILLAH, maka diri sendiri jangan dihiraukan, makanan atau minuman jangan dihiraukan, rasakan saja Gusti Allah yang mengadakan adanya kita. Lebih mudahnya saat membaca basmalah atau doa makan atau doa yang lainnya, alihkan saja perhatian kita dengan merasakan daerah ubun-ubun (mbun-mbunan) di kepala.Sedetik atau dua detik sudah cukup untuk menyamakan frekuensi bolong, asal ya itu tadi BOLONG seakan tidak ada apa-apa. Kalau sudah seperti itu apa sudah "aman" ? Ya belum tentu, siapa yang bilang he... he... he... Itu kan jareku, embuh jaremu.

Maka di segala sesuatu, yang namanya makhluk, pasti tak ada keadaan yang mutlak, semua memiliki anomalinya masing-masing. Banyak yang mengatakan bahwa rokok itu merugikan kesehatan, kopi itu tak baik, ini itu begini, itu ini begitu dan saya katakan bahwa belum tentu seperti itu sebagaimana diasumsikan secara umum.

Setiap manusia memiliki tingkat resistensi yang berlainan terhadap segala sesuatu dan itu saya kira masing-masing manusia itu sendirilah yang bisa niteni dirinya sendiri, tentu saja kalau mau mencari dan mengenali, tidak sekedar tembung jare, jarene alias katanya.

Kira-kira begicu. Salam bolongers.

Jejak Ramadhan

Tak terasa insya Allah kurang dari tiga bulan lagi kita akan menemui bulan Ramadhan, pertengahan agustus, lalu kira-kira adakah bekas Ramadhan yang telah lalu itu dalam diri kita ini ? Kalau saya sendiri sih rasanya masih jauh….. jauh sekali dari derajad orang yang taqwa, mungkin malah dari tiap Ramadhan yang telah terlalui tidak ada bekasnya sama sekali.

Satu

Kemarin ketika Ramadhan menjelang dan setiap Ramadhan menjelang, di benak ini tergambar betapa banyak ibadah yang ingin dilakukan, tetapi ah… benarlah bahwa nafsu di dalam keburukan itu lebih jelas terlihat dari pada nafsu yang menyertai kebaikan apalagi nafsu di balik ibadah yang kulakukan. Nafsu shalat, nafsu dzikir, nafsu puasa dan seterusnya. Lho lha kok tahu kalau itu nafsu ? Ya tahu asalakan aku memang benar-benar mau menelusurinya, bahwa setelah kutelusuri, segala hal yang meskipun kelihatannya baik, meskipun ibadah sekali pun, ternyata tujuannya bukan semata-mata untuk Allah berarti nafsuku ikut bermain di sana. Demi pahala, demi selesainya masalah, demi kemakbulan doa dan demi-demi yang lain bukan semata-mata karena Allah. Apalagi kalau keingina beribadah itu hanya sekedar angan-angan kosong tanpa tindakan nyata, ah… apalah artinya ? “Pengharapanmu harus disertai dengan amalan. Kalau tidak, maka itu hanyalah lamunan”. (al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî).

Dua

Saat menginjak Ramadhan, teringat olehku selalu saja terlihat fenomena yang sama. Di siang hari, di mall-mall banyak terlihat yang sedang makan dengan demikian enaknya. Kalau yang makan non muslim sih, itu urusan mereka, tetapi banyak di antara mereka yang berkerudung, itu pun sebenarnya bukan masalah karena mungkin saja mereka sedang berhalangan, tetapi pasangannya, mestinya laki-laki kan tanpa halangan, juga ikut makan dengan enaknya. Tapi bisa jadi mereka itu musafir sehingga mendapatkan rukshoh, tapi musafir kok di mall ya .. ? Byuh-byuh, …. Apalagi di luar sana…. Wuaaakeeeehh sing gak poso, shalat saja tidak apalagi puasa. Meski puasa tapi kalo diri ini masih sekedar dapat predikat orang yang hanya dapat lapar dan dahaga saja, rasanya sedih banget, apalagi yang tidak berpuasa. Tapi kok bisa ya mereka nyantai seperti itu ? Halah ya sudahlah, urusan mereka, ora usah melu-melu, namanya saja fenomena.

Tiga

Saat Ramadhan kemarin, Surabaya, kalau siang puaanassss banget. Kasihan mereka yang bekerjanya seharian di lapangan, pakai otot lagi, bisakah mereka berpuasa ? Para tukang becak, pekerja bangunan, pedagang keliling dan lainnya, kalau mereka berpuasa, sungguh perjuangan yang teramat sangat berat sekali terutama dari segi fisik. Tenaga terus terpakai, keringat tak kunjung kering, tetapi berpuasa, sungguh tak terbayangkan. Boleh tidak ya kalau memang kondisinya begitu berat seperti, kemudian tidak berpuasa tetapi membayar fidyah ? Kalau misalnya boleh berarti mestinya kewajiban kita semua dalam mengeluarkan zakat fitrah tidak usah menunggu di akhir bulan Ramadhan, tetapi mestinya di awal bulan Ramadhan agar segera bisa didistribusikan kepada mereka yang memang kondisinya benar-benar membutuhkan, agar mereka pun kalau toh terpaksa tidak sanggup berpuasa bisa tetap membayar fidyah dari zakat yang diterimanya. Tetapi mungkin banyak yang mengatakan yang penting kan niatnya, kalau niatnya kuat, meski kerja berat pasti bisa melaksanakan puasa. Tapi bagiku, coba saja yang ngomong begitu suruh menjalani kehidupan seperti yang mereka jalani, kuat engga ? Ojok omong thok ae !!! Bersyukurlah diri ini yang tidak harus melampaui puasa dalam kondisi seperti itu.

Empat

Aku ingat sejak tahun 1993 kemarin, ketika waktu Maghribku banyak terlewati di sepanjang jalan yang harus kutempuh, berbuka puasa di masjid memberikan suatu kesan kebahagiaan tersendiri di hati ini. Begitu juga saat Ramadhan kemarin, hampir setiap hari, di saat teman-teman lain banyak berbuber (buka bersama) di mall-mall, di resto-resto, aku demikian juga adanya, selalu berbuber tetapi di masjid bareng sama rekan-rekan kerja. Yang pasti lebih barakah, karena tidak mungkin terlewatkan waktu shalat maghribnya, sekalian shalat berjamaah di masjid, serta memberi kesempatan bagi mereka yang ingin beramal dengan menyediakan makanan untuk berbuka puasa. Walau hanya sebungkus nasi dan walau hanya segelas teh hangat tetapi nikmat dan hemat :D. Tetapi di masjid itu, selalu kutemui sosok lelaki paruh baya [yang mungkin lepas dari pengamatan teman-temanku], dengan uban mulai tersebar di rambutnya, dengan dandanan yang bersahaya, selepas shalat berjamaah menanti hidangan buka puasa dibagikan, duduk terdiam dengan pandangan menerawang jauh entah ke mana. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang direnungkannya. Kuamati, sosok itu hanya sekedar minum segelas teh hangat. Nasi bungkus yang dibagikan tidak pernah dimakannya, hanya disimpan. Kalau di akhir berbuka masih ada kelebihan nasi yang dibagikan kepada jama’ah, sosok itu selalu ikut berusaha untuk menerimanya dan makanan itu selalu di bawanya pulang kerumah. Oh.... apakah keluarga di rumah menantikan itu ? Sungguh masih banyak di negeri ini yang kondisinya masih sangat memprihatinkan kalau tidak boleh dibilang sangat mengenaskan, bahwa untuk makan genap sehari sekali saja sudah merupakan kemewahan luar biasa bagi mereka. Kalau kebanyakan kita hanya berpuasa sebulan saja di tiap tahun, itu pun hanya di siang hari saja, tetapi masih banyak saudara-saudara kita yang puasanya sepanjang tahun. Bukan karena puasa itu sendiri, tetapi karena memang kondisinya yang tidak memungkinkan walau pun hanya sekedar untuk makan saja. Sungguh rasanya teriris hati ini bila menyaksikan yang seperti itu, tapi apalah daya, diri ini bisanya ya hanya berprihatin, belum bisa sama sekali berbuat dalam tindakan nyata untuk mereka. Karena itu, salut, hormat dan terima kasihku untuk mereka yang senantiasa memwakafkan hidupnya untuk selalu ngemong, mendampingi dan menguatkan mereka yang terpinggirkan oleh perekonomian bangsanya sendiri, mereka yang terpingirkan oleh sejarah negerinya sendiri dan mereka yang terpinggirkan oleh sistem sosial kemasyarakatan negaranya sendiri.

Lima

Nah, tiba saatnya Idul Fitri, sangat terlihat bahwa momen tersebut bukan lagi suatu momen ritual keagamaan tetapi merupkan momen ritual budaya juga, Momen terheboh tahunan yang melibatkan seluruh komponen negara. Pemerintahnya sibuk mempersiapkan angkutan lebaran, keamanan, ketersediaan dan kestabilan harga sembako, transportasi dan sebagainya. Pengusahanya sibuk memanfaatkan momen lebaran dengan berusaha meningkatkan volume penjualan dengan berbagai iming-iming diskon. Para karyawan, pegawai dan buruh sibuk menantikan pembagian THR. Para oknum juga sibuk ke sana kemari mencari tambahan THR. Masyarakatnya juga sibuk sendiri-sendiri mempersiapkan lebaran sesuai persepsi mereka masing-masing dan banyak di antara masyarakat kita yang notabene tertulis Islam di KTP-nya, walau sama sekali tidak pernah menjalani puasa juga tidak pernah absen ikut merayakan Idul Fitri.

Enam

Momen terheboh tahunan, MUDIK. Siapa pun, ketika lebaran tiba rasanya ingin pulang ke tempat asal berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara. Walaupun jauh asal ada sangunya, ya inginnya pulang. Sehingga saking banyaknya penduduk negeri ini yang pulang ke tempat asal masing-masing, maka pemerintah beserta seluruh jajarannya, lintas departemen sampai aparat keamanan dibuat sibuk mempersiapkan mudik lebaran. Sampai-sampai setiap stasiun televisi selalu meng-update berita tentang mudik lebaran. Dengan mudik itu pula perputaran uang lebih cepat lagi dalam wilayah yang lebih luas. Fenomena mudik ini mungkin merupakan hasrat ruh. Maksudnya, setiap diri kita ini pasti punya kecenderungan menelisik asal mula kehidupan kita, yang paling dekat ya pasti setiap orang ingin tahu siapa orang tuanya. Makanya mudik itu kan keinginan untuk kembali bertemu orang tua, berziarah ke makam kakek nenek misalnya. Menelusuri dari mana kita dulu berasal. Nah, kita hidup di dunia ini kan dilengkapi tubuh fisik oleh Allah karena memang kita hidup di alam fisik, dilengkapi juga dengan hawa nafsu, akal, qalbu dan tentu saja yang inti adalah ruh. Yang nantinya kembali kepada gusti Allah kan ruh kita, sehingga ruh kita pun punya kecenderungan untuk bertemu dengan asalnya, penciptanya, pemiliknya yaitu Allah. Masalahnya, kecenderungan itu terbimbing tidak ? Kalau tidak terbimbing jadinya pun macam-macam, arahnya pun macam-macam, tujuannya pun macam-macam, bukan kepada Allah. Nah pada fenomena mudik inilah, kecenderungan ruh untuk bertemu tuhannya sebagai asal mula kehidupan terwujud dalam realita fisik berupa keinginan untuk menemui bapak dan ibu biologis kita juga mungkin terus ke atas kakek dan nenek biologis kita. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI 'UN.

Tujuh

Ada lagi satu tradisi di Idul Fitri yaitu tradisi untuk saling bermaafan. Dari tahun ke tahun jengah juga pikiranku ini, kenapa bermaafan saja kok harus menungu lebaran ? Itu pun belum tentu di hati ini bisa benar-benar memaafkan. Bila dinilai dari kedalaman hati, minta maaf bagiku mungkin suatu hal yang lebih mudah dibandingkan dengan memaafkan. Bila misalkan ada kesalahan terhadap seseorang, pasti di hati ini muncul suatu penyesalan dan ada satu keinginan untuk meminta maaf kepada orang yang kusalahi, meskipun dalam wujud realitas fisik belumlah menjadi suatu tindakan nyata. Tetapi kalau kita merasa pernah disalahi orang, sepertinya rasanya masih sulit ya untuk benar-benar rela memaafkan. Coba saja dicek, umpama orang yang pernah menyalahi kita tiba-tiba saja mendapatkan sesuatu yang buruk bagi dirinya, kira-kira kita berprihatin atau malah bersyukur ya ? [harus jujur lho ya !] Kalau sampai kejadian seperti itu, sungguh, menghabiskan banyak energi, masa lalu terus akan menghantui kekinian kita, kita tidak akan bisa berdamai dengan diri sendiri. Cape deh..... 

Delapan

Satu lagi tradisi di awal Ramadhan dan biasanya juga di ahir Ramadhan, yaitu ziarah kubur ke makam orang-orang terdekat kita yang lebih dahulu menghadap-Nya. Banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari ziarah kubur itu,di antaranya :
Ziarah kubur mengingatkan kita akan keterkaitan sejarah kehidupan, bahwa masa ini ada karena adanya masa yang telah lalu dan masa yang akan datang ada pun karena masa ini ada. Meski hakikinya kita semua Allah-lah yang menciptakan, tetapi adanya kita di dunia ini berasal dari orangtua kita, maka adanya kita selalu dinisbahkan kepada orang tua kita dan terus menyambung ke kakek nenek kita terus ke atas ke seluruh leluhur kita. Dalam ziarah kubur, ada Cinta, yang terungkap dari doa-doa kita kepada Allah untuk mereka yang telah meninggalkan kita. Kita mempersembahkan doa kita kepada mereka walau pun mereka sudah tidak memberikan kemanfaatan langsung bagi kita. Patut diingat juga bahwa apa pun yang telah kita capai saat ini, bisa jadi secara sebab akibat duniawi itu adalah berkah dari doa yang telah dipanjatkan leluhur kita dahulu, sehinga doa kita untuk mereka adalah pemulian kita kepada leluhur kita sebagai rasa terima kasih kita untuk mereka. Doa kita untuk mereka juga berarti penguatan dan penegasan bahwa kitalah bagian dari doa yang telah mereka panjatkan yang berarti hal itu merupakan kesiapan kita untuk menerima perwujudan dari doa mereka para leluhur kita. Hal itulah yang semestinya menjadi kesadaran kita, bahwa kita hidup hari ini bukan untuk diri kita sendiri, melainkan nantinya kita pun akan mempunyai anak keturunan yang terus berkembang sampai akhir jaman kelak. Lalu apa yang bisa kita wariskan kepada mereka anak cucu kita ? DOA. Maka marilah kita panjatkan juga doa untuk seluruh anak keturunan kita sampai akhir jaman kelak. Orang tua jangan sampai lupa mendoakan anaknya sehabis shalat dan kita sebagai anak juga jangan sampai enggan mendoakan orang tua kita setiap selesai shalat. Apa jadinya atau mau jadi apa generasi ini jika orang tua sudah tidak pernah mendoakan anaknya dan anak pun sudah tidak pernah mendoakan orang tuanya ? Kalau kita memiliki kesadaran bahwa hidup bukan untuk hari ini saja bukan untuk diri kita sendiri saja tetapi masih akan anak kita, cucu kita dan seterusnya, maka biasanya dalam menjalani hidup kita tidak akan semena-mena, sakmadya saja. Kalau kita mempersulit orang lain, relakah kita kalau anak kita atau cucu kita juga dipersulit ? Kalau kita mencurangi orang lain, relakah kita kalau anak kita atau cucu kita juga dicurangi orang lain ? Kalau kita menzholimi orang lain, relakah kita kalau anak kita atau cucu kita juga dizholimi orang ? Kalau kita seenaknya sendiri dan semena-mena pada istri kita, relakah kita bila hal itu terjadi pada anak perempuan kita ? Dan seterusnya dan seterusnya. Sebaliknya juga begitu, andai kita senang memudahkan seseorang, senang berbuat kebaikan, senang membantu seseorang, maka insya Allah nantinya anak cucu kita akan mudah. Ibarat saat ini kita menanam dan biarlah nanti anak cucu kita yang memanennya.

Ziarah kubur mengingatkan kita akan singkatnya masa hidup kita. Fulan, lahir : xx-xx-xxxx dan wafat : xx-xx-xxxx, berarti hidupnya dibatasi tanda “strip” tahun xxxx – xxxx. Sangat-sangat singkat bila dibandingkan dengan masa penantian sebelum ruh ditiupkan ke jazad kita, sangat-sangat singkat bila dibandingkan degan masa penantian akan hari kebangkitan kelak dan sangat-sangat singkat bila dibandingkan dengan akhirat yang kekal dalam kekekalannya Allah. Masa singkat yang menentukan nasib kita kelak di hadapan Allah dan tidak akan mungkin untuk diulangi lagi. Pilihan kita untuk mengisi masa singkat itu dengan apa dan bagaimana. Apakah kita bisa menghidupkan hidup kita [minimal] atau malah kita sebenarnya tidak hidup ?

Ziarah kubur mengingatkan kita bahwa yang namanya makhluk pasti ada masanya. Setelah habis, pasti kembali kepada sang pemilik dan siapa lagi yang memiliki jika bukan Allah. Berarti masa depan kita yang hakiki adalah Allah dan betapa ruginya hidup ini jika tidak berorientasi Allah. Semoga kita dimudahkan untuk selalu meorientasikan hidup kita untuk Allah. Apa pun yang kita raih, apa pun yang kita miliki, apa pun yang kita perjuangkan walau sampai berdarah-darah tidak akan pernah kita bawa ke liang lahat, ruang sempit 1x2 meter yang pengap, lembab dan gelap. Ih... ngeri.

Semoga menjelang Ramadhan, hati kita dipersiapkan Allah untuk memasukinya dengan suka cita dan bisa membuat hidup kita benar-benar hidup. Aamiin.

by : den Bagus.

Kengerian si Mbah

.:: 21.10.2010 ::.

Seperti biasa aku diam tak berkata, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini…. [he… he… nyontek syair lagunya Bang Iwan]. Cinta sama siapa ? Ya… siapa lagi kalau bukan sama si mBah yang satu itu, yang selalu membuatku SPORT jantung kalau datang.

Seperti saat itu, si mBah satu itu tanpa diundang, tanpa sms dulu, tanpa suara, tiba-tiba saja sudah hadir di hadapanku dengan pakaian kebesarannya : baju koko lengan pendek warna hitam [yang tak lagi hitam karena pudar] dan celana jeans biru yang sudah pudar juga warnanya karena tiap hari dipakai.

Si mBah duduk bersila dengan kaki kiri diletakkan di atas kaki kanan, punggung tegak, tangan diletakkan di bagian samping atas lutut dengan jari telunjuk melingkar menyentuh ibu jari dan ketiga jari lainnya terbuka [setelah kuperhatikan rupanya posisi jarinya merupkan symbol alif lam lam ha]. Pandangan matanya dingin menatap ke arahku yang membuatku serasa tersedot pusaran energi yang luar biasa seakan-akan terlempar ke dalam suasana dan gambaran yang diperlihatkan mBah Zhudhrunh kepadaku.

Tiba-tiba saja seluruh otot tubuh mBah Zhudhrunh meregang, bibirnya terkatup rapat, dahinya bekerut dan sejenak kemudian badannya menggigil. Sesaat berikutnya air mata deras mengucur dari sudut matanya. Mungkin sambil menahan gejolak perasaannya, si mBah terbata-bata berkata,

“Oh.. tak tega aku… tak tega aku melihatnya… sungguh tak tega…. ! Ngeri aku…. akhiri… segera akhiri… mumpung masih ada kesempatan…. mumpung masih ada waktu, sebelum semuanya terlambat !”.

Mendadak hawa di ruangan tempatku berada terasa dingin mencekam, desir angin terdengar jelas di telingaku, terangnya cahaya berangsur pudar bagai mentari yang terbendung awan. mBah Zhudhrunh semakin menggigil dalam tangisannya sambil terbata mengucap,

“Bisa jadi apa yang di langit akan ditumpahkan ke bumi bersamaan, bisa jadi apa yang di dalam bumi akan disemburkan bersamaan, bisa jadi sebuah keluarga akan bercerai berai tanpa kabar berita, awan tampak berarak-arak dan nyawa manusia terlihat berserak-serak.”

Hening, sunyi, senyap….

Selama telingaku mendengar perkataan mBah Zhudhrunh, tanpa kusadari imajinasiku mengembara memvisualkan kata-katanya hingga merinding bulu kuduk ini dibuatnya. Aku terus tersedot suasana yang tergambar di imajinasiku sampai akhirnya aku terbangun dari lamunanku karena bentakan mBah Zhudhrunh, “Kopiku mana ?”

“Ya..ya… mBah, jawabku terbata-bata karena kaget, bentar mBah…”

Dengan terlebih dahulu mengirimkan Fatihah kepada Syaikh Abil Hasan Asy Syadzili, kutuangkan sesendok makan kopi HLT, tiga sendok teh gula pasir dan kutuangkan air mendidih di atasnya. Sambil mengaduk dengan menunggu kata hati untuk berhenti mengaduk, kulirik si mBah yang rupanya senyum-senyum sendiri. Entah apa lagi yang ada di hatinya, selalu tidak jelas dan bikin penasaran. Kopi pun siap dihidangkan.

“Ini mBah kopinya… monggo diunjuk [silahkan diminum]”, kataku.

Sejenak berikutnya, si mBah mulai ngomong ngalor ngidul gak karuan, kadang serius kadang dua rius kadang tiga rius pula. Dalam hatiku aku menggerutu, “Dasar wong sableng, habis nangis-nangis gak karuan kok jadi biasa, guyon terus pula.”

Dengan mengumpulkan segenap keberanian, kubertanya pada si mBah dengan logat mPok Minah dalam serial Bajaj Bajuri, “mBah, maaf, bukannya saya banyak tanya, bukannya saya tidak paham, tapi saya ingin tahu maksud kata-kata mBah tadi waktu mBah datang di sini.”

“Ee… lha dalah kowe nunggu itu to rupanya ?”, jawab mBah Zhudhrunh dengan mimik wajah tanpa dosa.

“Mungkin kalau yang disebut orang sebagai bencana alam itu BISA DILOGIKAKAN dengan suatu hubungan sebab akibat dimana bila SEBAB dikategorikan sebagai pengkhianatan/pembangkangan manusia terhadap Tuhan, maka sebagai AKIBATnya adalah Tuhan menurunkan adzab berupa bencana di alam manusia ini, maka coba kau inventarisir prilaku apa saja di negeri ini di semua bidang kehidupan dan di segala strata masyarakat yang belum memenuhi syarat untuk turunnya adzab Tuhan !”

“Maksudnya mBah ?”, tanyaku lagi karena kurang jelas menangkap perkataan mBah Zhudhrunh.

“TELMI !!! Amati kehidupan seluruh manusia di negeri ini, apakah memang belum memenuhi syarat untuk turunnya adzab Tuhan ?”, kata mBah Zhudhrunh lagi.

Wah gawat, kena pasal TELMI alias TELat MIkir ha… ha… ha… Rupanya aku harus berlatih BLINK lagi, biar bisa berpikir tanpa memikir, wis embuhlah.

“Lihatlah di level Negara, yang seharusnya melayani, yang seharusnya mengelola dan yang seharusnya menjamin telah gagal melaksanakan kewajibannya. Negara dijadikan ajang negosiasi kekuasaan, dijadikan ajang bagi-bagi akses ekonomi para preman kekuasaan, dijadikan ajang penghambur-hamburan uang untuk berbagai hal meskipun itu legal menurut undang-undang, tetapi dari mana semua itu dibiayai, bukankah dari rakyat juga. Mereka yang bisnisnya menggurita bisa berbuat apa saja, membuat parpol, masuk ke sistem kekuasaan, mengamankan bisnisnya, berbagai dengan para oknum untuk melegalkan hal salah dan seterusnya dan sebagainya. Kau lihat sendiri sajalah semua fenomena yang selama ini terbentang di depan mata. Di pusat dengan mudahnya uang dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang semestinya tidak perlu, kebalikannya, jangankan di pelosok-pelosok negeri, di sudut-sudut perkotaan pun masih banyak rakyat negeri ini yang hidupnya mengenaskan, tidak memiliki apa pun dan lebih parah lagi sama sekali mereka ini tidak tersentuh dan sama sekali tidak dimanusiakan oleh pengemban amanah Negara ini. Sungguh betapa sakitnya hati mereka.”

“Hukuman untuk para koruptor, untuk para penjarah kekayaan alam negeri ini sangat-sangat ringan bila dibandingkan dengan hukuman yang diterima rakyat jelata negeri ini yang hanya mengambil beberapa batang ketela pohon. Dihukum pun, mereka bisa menikmati fasilitas super mewah di balik tembok tahanan yang mengkerangkeng mereka, bisa juga tetap mengendalikan bisnisnya, tetap juga bisa mengendalikan pemilihan kepala daerah di daerah mereka. Sungguh menyakitkan hati.”

“Mereka yang punya jabatan, mereka yang punya pangkat, selalu mengunggulkan apa yang disandangnya saat bermasalah dengan rakyat yang seharusnya mereka ayomi. Meski cuma serempetan di jalan raya pun, mereka biasanya pasti bilang, “KAMU TAHU SIAPA SAYA ?”, apalagi yang biasanya pegang senjata. Sudah banyak kejadian seperti itu di negeri ini.”

“Jangankan di pusat, penyelenggara Negara di level terendah pun masih sangat banyak yang BELUM MELAYANI rakyatnya, malah SELALU MINTA DILAYANI. Urusan surat menyurat atau administrasi kependudukan pun dibuat kesempatan menggali dana untuk perut mereka sendiri. Terlebih lagi yang berkaitan dengan perijinan. Mereka lupa bahwa masyarakat yang mereka PERAH itulah yang menggaji mereka. Belum lagi yang berurusan dengan HUKUM, kalau yang BENAR saja BISA dijadikan SALAH agar bisa diperah, APALAGI yang benar-benar SALAH. Bisa jadi ATM hidup itu.”
Kuperhatikan raut muka mBah Zhudhrunh yang merah terlihat sekali gusar sekaligus sedih saat mengatakan itu semua. Namun rupanya omelan si mBah belum berakhir.

“Parah…. lebih parah lagi mereka yang menamakan dirinya para wakil rakyat. Mereka mengobral janji saat kampanye. Hitung sendiri berapa dana yang masing-masing mereka keluarkan untuk merayu rakyat banyak. Uangnya siapa itu dan adakah yang benar-benar ikhlas dalam berjuang demi rakyat. Kalau memang ikhlas, mereka mestinya tidak akan bingung dan pasti tidak ada target untuk mencari dana pengganti dari dana yang mereka keluarkan saat kampanye. Mereka yang berposisi sebagai WAKIL RAKYAT, selama ini prilakunya malah banyak yang MENYAKITI HATI RAKYAT. Saat negeri ini banyak menuai bencana, ke mana mereka. Mereka malah enak-enakan menghambur-hamburkan uang demi sebuah peningkatan kinerja menurut mereka meskipun selama ini belum terbukti secara nyata, atas nama studi banding, atas nama pembangunan gedung yang representative dan atas nama - atas nama yang lain.”

“Kalau saja… kalau saja…. “, mulai meleleh lagi air mata si mBah.

Kutanyakan pada mBah Zhudhrunh, “Kalau saja apa mBah ?”

Sambil berteriak lantang bagaikan sedang mengeluarkan aji gelap ngamparnya, si mBah ini menjawab, “KALAU SAJA AKU INI TUHAN, akan kutenggelamkan gedung mereka ke dasar bumi saat mereka menggelar teater pansus, teater fit and proper test, serta teater-teater yang lain. Akan aku lemparkan gedung pemimpin negeri ini ke luar galaksi, saat dia bermuka masam dan mengumbar keluhan di hadapan rakyat yang dipimpinnya. Untungnya aku ini bukan tuhan. Tuhan yang sebenar-benarnya tuhan, gusti ALLAH, malah penuh keLEMBUTan dan kasih sayang. Rahmatnya selalu mendahului marahnya.
Justru mereka yang sesungguhnya telah berkhianat terhadap tanggung jawabnya, yang telah berkhianat kepada Tuhan, seolah-olah malah diselamatkan gusti Allah. Mereka tetap bisa berapa saja, tetap bisa petantang-petenteng, tetap bisa mengumbar kesewenang-wenangan dan sebagainya. Rupanya mereka sedang dibombong atau dilulu atau diistidroj gusti Allah. Covernya bagus tapi sisinya penuh kehinaan, Mereka dibiarkan oleh gusti Allah untuk menumpuk hutang-hutangnya yang akan ditagih KELAK di hadapan-Nya. Sedangkan rakyat biasa yang paling banyak menjadi korban suatau bencana, kelihatannya malah diadzab, padahal mereka sedang dimesrai Allah, ditagih hutangnya agar segera lunas, agar pula nantinya bisa menghadap-Nya tanpa beban. Bila mereka bisa ridho, maka sebenarnya itulah tiket kemuliaan mereka untuk memasuki surga keridhoan-Nya.”

Segera kusela omelan mBah Zhudhrunh, “Memangnya pemimpin itu tidak boleh ya mBah berwajah masam dan bekeluh kesah ?”

“Dulu kanjeng nabi itu pernah satu kali berwajah masam, tetapi langsung ditegur oleh Allah. Salah satu hal yang membedakan seorang pemimpin atau bukan adalah keberaniannya. Mestinya PEMIMPIN HARUS BERANI menerima resiko yang terkait dengan kepemimpinannya walau nyawa taruhannya dan bukannya malah membeberkan bahwa dirinya terancam, bahwa ini dan bahwa itu. Pemimpin juga harus BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN, bukan malah terjebak keraguan berkepanjangan. Pemimpin harus cepat mengatasi semua konflik yang muncul bukan malah membiarkannya berlarut-larut. Ini sebagaian kecil dari satu aspek saja, yaitu keberanian. Tapi dari semua aspek kepemimpinan, yang terpenting, yang pertama dan utama mestinya adalah seorang PEMIMPIN HARUS mempunyai dan menerapkan kesadaran MANUNGGALING KAWULÄ lan GUSTI dalam dirinya, sebagaimana kanjeng nabi Muhammad.”

Rupanya kalimat terakhir ini tidak asing di telingaku, kusela lagi saja si mBah mumpung belum diteruskan ngomelnya, “Seperti manunggaling kawulä gustinya Syaikh Siti jenar itu ya mBah ?”

“Bukan… bukan yang itu yang kumaksud. Kalau yang kau maksud itu kan sebenarnya kemanunggalan penyaksian antara hamba dan tuhannya yang sering disalahartikan sebagai kemanunggalan wujud hamba dan tuhan, namun bukan itu.”

“Manunggaling kawulä lan gusti dalam konsep kepemimpinan, maksudnya begini : bahwa kawulä diartikan sebagai ummat atau rakyat yang dipimpin, sedangkan gusti artinya ya Tuhan dan manunggal artinya menyatu. Jelasnya, dalam diri seorang pemimpin, dua unsur itu harus menyatu, RAKYAT harus selalu ada di PIKIRANnya dan ALLAH harus selalu ada di HATInya. Sebagaimana kanjeng Nabi, tidak ada yang lain dalam hatinya selain Allah, tetapi Beliau juga setiap saat memikirkan ummatnya, sampai meninggal pun yang disebut-sebut dan yang diprihatinkan adalah ummatnya. Maka seorang pemimpin dengan kesadaran manunggaling kawulä lan gusti tidak akan pernah menelantarkan rakyatnya, sebab hal itu berarti mengkhianati Tuhan. Di sisi yang lain, dia juga tidak akan mengkhianati Tuhan, sebab hal itu akan mencelakakan rakyatnya, sebab hal itu secara akal akan menjadi sebab turunnya adzab Tuhan dan yang paling merasakan adalah rakyatnya.”

Mendengar hal itu, diam-diam dalam hati aku merasa sangat bersalah. Bukankah AKU juga seorang pemimpin, minimal PEMIMPIN KELUARGA dan sebagai pemimpin keluarga sudah berapa kali aku bekeluh kesah kepada istriku, hal yang semestinya tidak usah diketahuinya. Kalau aku harus berjuang keras menegakkan bahtera keluarga, bukankah hal itu sudah semestinya harus kujalani tanpa perlu mengungkapkan kepada istri yang malah akan membuatnya khawatir ? Alhamdulillah, bahwa ternyata istriku benar-benar sebagai [kata orang jawa] KÄNCÄ WINGKING. Käncä itu berarti teman, wingking itu berarti belakang.  Käncä wingking bukan berarti dinomorduakan, tetapi sejatinya malah memiliki peran atau posisi sentral. Penggembala itu tidak pernah berada di depan gembalaannya. Penggembala selalu berada di belakang gembalaannya, dalam posisi membopong, memangku, mengarahkan dan mengayomi serta menampung.

Maka benarlah suatu falsafah yang diajarkan oleh R.M. Soewardi Soerjaningrat atau dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantärä tentang ing ngarsä sung tulädhä [bahwa pemimpin itu harus yang pertama dan terdepan dalam memberi teladan atau contoh nyata dalam kebaikan], ing madyä mangun karsä [bahwa pemimpin itu harus bisa membangun kesadaran dan kemauan berkarya, membangun kesadaran dan kemauan beramal sholih di tengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya] dan tut wuri handayani [bahwa kalau teladan sudah diberikan, kesadaran telah tumbuh dengan baik, sistem pun sudah berjalan dengan baik, maka seorang pemimpin tinggal mengawasi, mengikuti dan terus menerus menjaga dan meningkatkan kualitas sistem tersebut].

Ah…. jadi terbawa lamunanku sendiri.

“Amar ma’ruf nahi munkar !!!”, setengah berteriak, mBah Zhudhrung membangunkanku dari lamunan.

“Pimpinan penyelenggara Negara ini mempunyai kapasitas sebagai AMIR makanya disebut juga dengan pemerintah. Maka semestinya amar ma’ruf merupakan tugas utama pemimpin Negara ini. Dia harus MEMERINTAHKAN KEBAIKAN, bukan cuma menghimbau…’Saya menghimbau agar…’”, demikian kata mBah Zhudhrunh sambil menirukan bahasa tubuh salah seorang tokoh di negeri ini saat mengatakan ‘saya menghimbau…’.

“Lha kalau nahi munkar itu tugasnya para rohaniwan, kyai, ustadz, juga tugasku dan tugasmu pula. Pemimpin kok cuma menghimbau, kapan selesainya permasalahan yang kian hari kian menumpuk itu. Sebagai pemimpin ya memerintah dong !”, keras sekali suara si mBah seperti sedang marah.

Kataku, “mBah… kok marah-marah sih, bukannya kanjeng Nabi pernah berpesan jangan marah.”

“He… he… he…”, dengan wajah konyolnya mBah Zhudhrunh tertawa tanpa beban dan melanjutkan, “BEDAKAN antara MARAH dan AMARAH. Marah itu sebuah metode sosial, merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal, untuk menyampaikan suatu pesan dengan penekanan khusus terhadap suatu hal agar tidak terjadi pembiaran-pembiaran terhadap hal-hal keliru. Aku marah karena memang harus marah, bukan karena ada faktor sebuah ‘harga diri’ku yang terusik. Aku marah tetapi tanpa amarah, karena aku menyadari hidayah adalah haknya gusti Allah, jadi kalau marahku tidak digubris, bagiku ya tidak menjadi masalah, biasa saja. Marah jangan disertai amarah, tetapi disertai kasih sayang demi mengajak untuk melintas ke jalan hidayah.”

“Begitu ya mBah.”, jawabku sambil melihat diriku sendiri, betapa selama ini mungkin marahku selalu disertai amarah karena kelemahan jiwaku serta terpengaruh sebuah mitos tentang harga diri. Padahal SEJATINYA DIRI INI TAK ADA HARGANYA, ia sejatinya adalah faqir indallah : ’musnah dan menguap’ dihadapan gusti Allah. Astaghfirullah… duh Gusti nyuwun ngapurä.

“Lihatlah juga di level masyarakat.”, kembali si mBah melanjutkan, “Tidak usah bicara dulu masalah akhlak yang tentu menyangkut aturan agama. Lihat sajalah pada tataran moral, bagaimana moral masyarakat kita yang katanya bangsa kita ini adalah bangsa timur yang sangat memegang moralitas budaya yang teguh. Terlebih lagi bila kita melihatnya pada tataran akhlak, maka akan terlihat semakin parah. Jaman ini semua diindustrikan, bahkan agamapun jadi sebuah industri baru. Lha yang namanya industri, tidak bisa tidak, targetnya adalah meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Agar sebuah industri laku di pasaran maka apa pun produknya selalu dikaitkan sebagai sebuah gaya hidup. Maka sihir-sihir gaya hidup yang mempesona mulai ditebarkan dengan segala cara di segala media. Masyarakat kita terpana, terpesona dan terobsesi karenanya.

Bagaimana jadinya bila anak-anak kita yang masih belia usia, setiap hari di bombardir sihir-sihir itu. Bahkan sekolah-sekolah banyak yang didirikan untuk membentuk jiwa wira usaha agar siap masuk ke dunia industri atau pun menciptakan industri baru. Bagus memang, tapi tanpa diimbangi akhlak, apa jadinya ? Orientasinya serba duniawi, maka nanti akan terjadi kekeringan luar biasa dalam jiwa-jiwa mereka. Secara materi semua mungkin bisa dipenuhi, namun jiwa mereka kering, tak tahu apa yang harus dicari, tak tahu ke mana bahagia harus dicari. Maka, orang pun mulai berlomba-lomba mendefinisikan kebahagiaan menurut persepsi mereka masing-masing, bahwa yang namanya bahagia itu begini, begini dan begitu. Dikejarlah kebahagian menurut persepsi mereka masing-masing, saat terpenuhi ternyata dahaga itu tak terpuaskan malah resah dan gelisah, dicarilah hal lain lagi dan ujung-ujungnya pun berakhir sama.”

“Teknologi bergerak cepat, tapi tanpa imbangan akhlak apa pula jadinya. Mulai anak-anak sudah akrab dengan perangkat elektronik. Lebih asyik sibuk dengan gadget-nya dibanding memperpeka rasa dengan memperhatikan sesama. Lebih asyik nge-game daripada belajar tata krama. Lebih asyik nonton film penggugah syahwat dibanding bersholawat. Lalu apa jadinya generasi ini ? Hubungan pertemanan kian tanpa batas. Bebas ber-apa saja dengan siapa saja. Para ayah atau ibu lebih asyik nongkrong dengan temannya dari pada menemani keluarga di rumah. Para orang tua tidak lagi mendoakan anaknya, anak pun lupa mendoakan orang tuanya. Para guru enggan mendoakan muridnya, murid pun malah tak terpikirkan mendoakan gurunya. Budi pekerti semakin jauh dari pembiasaan sehari-hari. Masih banyak hal lain yang semacam itu.”

“Pola pikir masyarakat kita sekarang ini pada umumnya memburu kesenangan, maunya yang serba enak. Punya anak pun inginnya di sekolahkan di sekolah yang favorit tentu saja ini bagi mereka yang berduit, sampai ke jenjang-jenjang berikutnya, biar cepat dapat kerja dengan gaji besar, agar cepat kaya dan hidup enak. Motivasinya mengejar yang enak-enak dan bermewah-mewahan. Maka cara yang instan pun kerap kali ditempuh. Tiap hari tayangan televisi  hanya menampilkan tontonan tanpa tuntunan. Para artis dipuja-puja tiada tara, meski tersandung banyak perkara. Maka, keinginan menjadi bintang pun begitu kuat tertanam, dengan motivasi ketenaran dan kekayaan. Tak heran ajang-ajang pemilihan bintang di seluruh stasiun televisi selalu dijubeli peminat.

Bahkan menjadi pendakwah pun diaudisikan demi sejumlah hadiah dan sebuah ketenaran. Saat memperjuangkan hidup begitu sulitnya, bahkan untuk sekedar makan pun harus  belum tentu ada, saat itu pula di sisi lain kemewahan selalu dipertontokan dan menjadi sebuah obsesi tersendiri, maka mereka yang jiwanya masih labil sering tergoda gemerlapnya kemewahan. Lihat saja sendiri, perdagangan, penculikan wanita belia usia demikian maraknya. Ayam kampus, ayam abau-abu atau apa pun namanya merupakan fenomena di mana-mana. Tidak hanya perempuan, laki-laki usia sekolah pun yang disebut dengan sebutan “kucing brondong” siap melayani hasrat sesaat sesama jenis juga sudah jamak di masyarakat. Apalagi saat ini ketika media jejaring sosial sudah menjadi keseharian, semakin mudah bagi mereka untuk membentuk komunitasnya sendiri sekaligus menebar jaring pemasarannya. Mereka melacurkan dirinya sendiri. Ada yang lebih parah bin parah, yaitu mereka yang tega melacurkan agamanya, melacurkan bangsanya, melacurkan kekayaan alam negeri ini demi perutnya sendiri ?”

Byuh-byuh… pikirku memang benar apa yang dikatakan si mBah, begitu banyak kerusakan moral dan kerusakan akhlak. Negeri ini semua penduduknya beragama, tapi pemerintahnya dan masyarakatnya sama-sama ‘parah’ termasuk diriku sendiri. Jaman dikatakan semakin maju, pertumbuhan ekonomi semakin tinggi dan kemajuan teknologi semakin cepat terjadi, namun manusia malah semakin terasing dari Tuhannya, semakin tidak mengenali dirinya sendiri, semakin pongah terhadap bumi yang ditempatinya dan tentu saja semakin jauh dari kearifan. Untuk hal-hal kecil yang kasat mata saja banyak yang tidak mau memperhatikan, seperti sering kulihat di jalanan, sedan mewah melaju pesat di jalanan yang padat tetapi tiba-tiba saja sehelai tissue berkelebat keluar dari dalamnya. Apalagi kalau melewati sungai di perkotaan, betapa banyak sampah yang hanyut di dalamnya. Ada acara di masjid saja, lha kok selesai acara masjidnya malah kotor, gelas plastik air kemasan bertebaran, kotak kue berserakan yang akhirnya yang jaga masjid pasti bergeletakan soalnya capai membersihkan. Kalau kupikir-pikir lagi, rasanya benar bahwa saat ini kalau dilogikakan, memang syarat untuk turunnya adzab sudah sangat terpenuhi. Bisa jadi yang ditakutkan mBah Zhudhrunh sangat-sangat mungkin untuk terjadi. Aku jadi membayangkan, seandainya saja Gunung Anak Krakatau meletus dengan kekuatan penuh, bisa jadi seluruh Sumatera dan sebagaian Jawa hancur lebur, bisa jadi Pulau Jawa terbelah.

Jadi ingat ummatnya Nabi Nuh ditenggelamkan, saat terjadi pencairan es di kutub yang menenggelamkan sepertiga daratan bumi. Jadi ingat juga kisah benua yang hilang, Benua Atlantis, yang ditenggelamkan ke dasar bumi saat mencapai puncak peradaban dan teknologi, sekaligus puncak kepongahan dan keterasingan dari Tuhan. Konon data yang ada juga menunjukkan bahwa Atlantis itu terletak di bumi Jawa ini. Kalau itu benar, berarti menunjukkan bahwa sebenarnya ada mata rantai yang menghubungkan bahwa bangsa kita ini mempunyai potensi yang sangat luar biasa, yang apabila semua mempunyai kesadaran untuk menghidupkan hidupnya, insya Allah bangsa kita benar-benar akan menjadi mercu suar dunia. Yahudi Israel…. ah itu kecil bagi kita, apalagi hanya sekedar Amerika yang sukanya menakut-nakuti anak kecil, tidak ada apa-apanya, lha wong kita ini mbahnya.

Aku jadi ngeri sendiri, apa benar dalam beberapa tahun ke depan ini akan ada semacam penutupan masa sebagaimana dikatakan si mBah beberapa waktu lalu bahwa arahnya akan menuju masa kegelapan total untuk kemudian menyonsong cahaya baru. Ah… embuhlah, sakkersane gusti Allah.

Maka kubertanya pada si mBah, “mBah, kalau secara logika syarat untuk turunnya adzab sudah terpenuhi, kenapa bencana yang terjadi di negeri ini hanya di lokasi-lokasi yang itu-itu saja ?”

“Siapa bilang seperti itu, itu kan logika manusia, bahwa memang secara pengetahuan manusia, negeri kita termasuk daerah yang rawan bencana karena terletak di atas pertemuan tiga lempeng bumi sekaligus mempunyai jumlah gunung berapi terbnanyak di dunia, sudah dipetakan, tapi belum tentu juga seperti itu. Kenyataannya, yang tidak termasuk daerah rawan gempa, tidak termasuk yang berpotensi tsunami, dan tidak termasuk daerah gunung berapi aktif, tiba-tiba saja menyembur lumpur tanpa henti seperti di Sidoarjo sana. Kita tidak akan pernah tahu, bisa jadi selain Padang, Yogya dan Papua, tiba-tiba saja bumi Jakarta bergoyang, bumi Sulawesi terendam, bumi Kalimantan merekah dan sebagainya.”

“Wah berarti Jawa Timur aman dong mBah ?”, pancingku lagi.

“Siapa yang tahu kehendaknya Allah, lha Sidoarjo itu buktinya. Bisa jadi tiba-tiba saja bumi Pacitan geger entah kenapa atau daerah lain yang selama ini masih adem ayem saja.”, jawabnya.

“mBah lha kalau tiba-tiba saja gunungnya njeblug, lautnya tsunami, perbukitannya longsor, buminya bergoyang, tanahnya merekah dan anginnya membeliung secara bersamaan di semua daerah, apa jadinya kita ya mBah ?”

“Ya gak jadi apa-apa, paling wassalam… he… he….”, jawab mBah ZhudhrunH nyantai.

“Kok malah tertawa sih mBah ?”, tanyaku penasaran.

“Lha mau bagaimana lagi, kalau memang itu yang dikehendaki Allah. Tapi mudah-mudahan saja tidak sampai seperti itu, sebab bagaimana pun rusaknya penduduk negeri ini, masih ada saja nilai kebaikannya dan semoga itulah yang secara akal bisa membatalkan apabila memang harus terjadi sunatullah-sunatullah yang mengerikan seperti itu.”

“Nilai kebaikan yang semisal apa mBah ?”, tanyaku penasaran.

“Ya paling tidak dalam hati seseorang itu masih takut dosa juga, masih ada keinginan jadi orang baik. Misalnya saja, sekorup-korupnya orang, kadang karena masih takut dosa atau karena dia tidak tahu, sebagian hasil korupnya digunakan untuk membiayai majelis taklim atau memberangkatkan jamaah untuk menunaikan ibadah haji dan sebagainya. Caranya sih memang keliru, tapi paling tidak masih ada kebaikannya juga. Di samping itu, di negeri ini yang mengidamkan keluarga sakinah masih banyak, yang mengidamkan anak sholeh masih banyak juga. Artinya lembaga perkawinan di negeri ini masih sangat dihargai, sehingga seks bukanlah pelepasan hasrat sesaat-sesaat saja yang bisa dilakukan dengan siapa pun dan di mana pun. Masih ada keluarga.

Coba kita lihat saja pada jaman Nabi Nuh, istrinya pun sudah tidak taat, apalagi anaknya. Contoh lain misalnya, pekerja seks di lokalisasi sana semisal Dolly, banyak di antara mereka yang bekerjanya demi anaknya. Mereka sama sekali tidak mempunyai cita-cita agar anaknya pun mengikuti jejaknya. Hasil kerjanya dikirim ke daerahnya untuk membiayai anaknya yang sekolah atau sedang menuntut ilmu di pondok pesantren. Coba lihat, bukankah masih ada nilai kebaikan pada diri seseorang bagaimanapun kelam kehidupannya di mata orang lain."

“Hal-hal semacam itulah yang rasanya bisa meredam murkanya gusti Allah, secara akal, sebab sejatinya seluruh makhluk khianat kepada-Nya pun tak akan mempengaruhi kebesaran-Nya. Yang utama, sebenarnya kalau kita sampai saat ini masih diberi keselamatan oleh gusti Allah sebenarnya adalah semata-mata berkat barakahnya para waliyullah, para sirrullah, para guru-guru mursyid kita. Sebab beliau-beliau inilah yang dengan istiqomahnya, dengan keikhlasannya tak henti-henti selalu mendoakan ummat ini agar selalu mendapatkan ampunan Allah, agar selalu mendapatkan ketetapan iman, agar selalu mendapat terangnya cahaya hidayah dan agar selalu mendapatkan keselamatan dunia akhirat. Andaikata beliau-beliau ini sudah tidak ada, niscaya dunia sudah kiamat sejak kemarin-kemarin.

Lha kalau diriku dan dirimu ini kan masih jauh dari yang namanya orang baik, masih jauh dari yang namanya dzikir. Lha wong dzikirku sama dzikirmu itu seperti senapan model kuno, habis ditembakkan “dor” nunggu dulu dikokang baru “dor” lagi, hoaha… ha….. ha…. “, tertawa ngakak betul si mBah Zhudhrunh, menertawakan dirinya sendiri penuh kelegaan.

Selepas tawa itu berhenti, segera kusela dengan tanya lagi, “mBah… lha kira-kira apa yang bisa aku lakukan secara nyata, yang ringan bagiku agar paling tidak aku tidak menambah akumulasi kegelapan yang sedang terjadi ?”

“SEDERHANA. Sederhana sekali, engkau cukup menyebarkan benih-benih cinta ke seluruh semesta. Lakukan apa pun dengan cinta. Sadarilah bahwa diriku LEMAH, sadarilah juga bahwa dirimu LEMAH, maka dengan cinta kita bisa saling menguatkan dalam kebersamaan. Sebab saat kesadaran akan kelemahan diri tidak ada, maka yang muncul adalah keangkuhan sebuah HARGA DIRI yang sering menimbulkan perseteruan. Dalam perseteruan tidak mungkin ada kebersamaan sebab tidak ada cinta di dalamnya. Masing-masing pihak akan berusaha meraih apa pun demi dirinya sendiri yang dianggapnya berharga. Maka saat manusia tak lagi penuh cinta, alam pun akan demikian adanya. Dia hanya menerima dan memantulkan kembali apa yang dikehendaki manusia.”

Sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal kubertanya pada si mBah, “Pengejawantahan termudah yang bisa aku lakukan apa mBah, dalam rangka menebar benih-benih cinta itu ?”.

“SEDERHANA. Cukuplah engkau berbuat kebaikan sebagaimana biasanya, sebagaimana yang telah menjadi tanggung kewajibanmu dengan sungguh-sungguh dan janganlah merasa cukup hanya dengan itu, LEBIHKANLAH. Perbuatan baikmu harus plus dalam arti harus lebih dari yang cukup. Misal, di jalanan engkau membeli sebuah koran seharga tiga ribu rupiah dan engkau membayar sesuai harganya, berarti engkau telah berbuat baik. Tapi jangan puas hanya dengan itu, LEBIHKANLAH, lebih baik lagi engkau membayar sejumlah empat atau lima ribu, niatkan sebagai shodaqohmu. Tetanggamu pinjam beras dua kilo, nah kalau engkau memang lagi berlebih kenapa tidak kau beri saja dua kilo ? Pinjamannya tetap sekilo dan selebihnya shodaqohkan. Kalau kau lakukan itu artinya engkau telah menebar benih-benih cinta dan tentu saja yang menerimapun akan bersuka cita penuh cinta pula, engkau mungkin malah akan didoakan olehnya, doa kebaikan. Saat pulang ke rumah, meski capai kemudian engkau melihat ada pekerjaan rumah yang belum beres, bantulah istrimu membereskannya, cuci piring atau cuci baju atau menghangatkan makanan, maka itu artinya engkau LEBIHKAN dalam berbuat baik. Seandainya semua orang berbuat hal yang sama, duhai betapa indahnya hidup kita. Tetapi tidak harus seperti itu, kalau memang kemampuanmu terbatas ya cukuplah berbuat baik saja dan jangan pernah sekali pun merugikan siapa pun dan apa pun.”

“Iya mBah, saya paham.”, jawabku sambil berpikir bahwa hal itu memerlukan latihan dan pembiasaan untuk melaksanakannya. Berarti wirid pun mestinya aku harus LEBIH, tidak Cuma standar sebagaimana biasanya, MINIMALIS.

“Ada lagi mBah tentang menebar benih-benih cinta ?”, tanyaku lagi.

“SEDERHANA saja. Kembali ke kesadaran bahwa dirimu LEMAH. Dirimu tak akan pernah bias hidup tanpa orang lain, maka mulailah untuk selalu berterima kasih kepada siapa pun yang telah menguatkanmu baik secra langsung maupun yang tidak langsung, baik yang engkau mengetahuinya atau pun yang tidak.”

“Jelasnya mBah ?” tanyaku.

“Mulai saja dengan TEMPE. Engkau suka makan tempe, atau engkau malah sering makan tempe ? Coba, apakah engkau tahu siapa yang menemukan tempe ? Siapa pula yang mengajarkan cara pengolahan kedelai hingga menjadi makanan yang bernama tempe ? Siapa pula yang telah menanam kedelai hingga panen, siapa saja pula yang mendistribusikan kedelai itu samapai ke pasar-pasar, sampai ke pengolah tempe, sampai ke penjual tempe dan sampai akhirnya siap tersaji di hadapanmu ? Peralatan apa saja yang dipergunakan sejak mulai biji kedelai disebar ke ladang hingga tersaji di hadapanmu ? 
Siapa yang menemukan masing-masing peralatan itu dan seterusnya. Duhai, untuk ‘sekedar’ tempe saja begitu banyak orang yang terlibat, begitu banyak orang yang meskipun engkau tidak mengetahuinya telah berjasa kepadamu. Betapa tak terhingganya jasa orang-orang lain di luar masalah tempe. Apakah engkau pernah merenungkannya ? Maka TEBARKANLAH CINTA dengan berterima kasihlah kepada mereka semua. Hadiahkanlah Al-Fatihah untuk mereka sebagai bentuk rasa terima kasihmu. Sebab saat engkau MENGINGAT, kelak engkau pun akan DIINGAT.”

“Dalam setiap doa, jangan hanya anakmu saja yang engkau doakan tetapi doakan juga seluruh anak keturunanmu sampai akhir jaman kelak. Jangan lupa juga mendoakan seluruh leluhurmu. Sebab di sana ada suatu mata rantai yang selalu terhubung antara yang lalu, yang sekarang dan yang akan datang. Mata rantai CINTA. Maka cintailah CINTA karena cinta.”

Tiba-tiba saja sepertia biasa, mBah ZhudhrunH lenyap tak berbekas dari hadapanku, padahala masih banyak yang ingin kutanyakan padanya, masih banyak rasa penasaran terhadap segala sesuatu yang tersimpan di hatiku, tetapi tiba-tiba saja seakan tahu apa yang kupikirkan, suara mBah ZhudhrunH begitu dekat terdengar di telingaku,

“Semakin kau banyak tahu, semakin banyak yang kau tidak tahu. Cukuplah apa yang kauketahui itu saja, sebab kau tahu pun tak ada gunanya bagimu, sebab pertanyaannnya adalah kalau kau sudah tahu lalu mau apa ? Lebih baik kau cari tahu saja rasa ujub, takabur, iri, dengki, riya’ dan kawan-kawannya yang masih bersemayam dalam hatimu itu seandainya ada skala imajiner satu sampai sepuluh, maka pada skala berapa rasa-rasa itu berposisi dalam hatimu, agar kau tahu skala prioritasmu untuk mengeliminasinya.”

GLODAK. Skak mat !!!

by : den Bagus.

Uang

Tak jarang saya biasanya memberikan wejangan secara khusyuk pada uang yang sedang menjadi “milik” saya sebelum berpindah tangan, begini : “Pergi ya pergi, sejauh mana pun engkau pergi, jangan lupa pulang ke rumah bawa teman yang buaanyaaakkkkk.”

He… he… he… boleh ditiru.

Maaf, bukan bermaksud menyombongkan diri atau bukan karena sudah tuntas mengolah jiwa, dengan berat hati saya paparkan fakta tentang diri saya bahwa dalam skala prioritas hidup saya, uang itu bukan merupakan prioritas yang pertama namun bisalah kalau saya katakan menempati skala prioritas ke-75 dan saya yakin Panjenenengan belum banyak yang bisa menempatkan uang pada skala prioritas ke-75 sebagaimana saya. Namun yang menjadi masalah bagi saya adalah bahwa skala prioritas ke-1 sampai dengan ke-74 dalam kehidupan saya masih kosong alias belum terisi he… he… he…

ITU MASALAHNYA dan itu tentang saya.

Banyak orang tua yang memesankan kepada anaknya agar sekolah yang pintar sehingga kelak mempunyai pekerjaan yang mapan, hidup enak dan nyaman. Apalagi makin lama tatanan kehidupan makin jauh dari kesalehan. Persaingan hidup begitu tingginya, semua bidang kehidupan diindustrikan ditambah lagi pengelolaan negara yang amburadul oleh pemerintah sehingga pada akhirnya saat ini tidak ada kejelasan mana Negara mana pemerintah. Semua berlomba berkuasa dan menguasai, tak jelas lagi beda antara pejabat dan penjahat, tak jelas juga beda antara aparat dan keparat. Semua tak lepas dari pamrih yang berlebihan, hingga fakta menjadi fatamorgana, hingga yang saleh malah kelihatan salah dan sebaliknya yang salah terlihat saleh.

Wis mbuh….

Setiap manusia berusaha bertahan hidup dan kebutuhan utama dalam mempertahankan hidupnya adalah makan, tetapi tentunya tidak hanya makan itu saja bukan ? Perlu tempat tinggal, perlu air, perlu listrik, perlu transportasi, perlu pendidikan dan seterusnya yang tentunya sangat beragam sekali tergantung pada level sosial ekonomi mana seorang manusia itu berada. Semua itu transaksional dan kebutuhan utama untuk itu adalah uang. Maka energy terbesar dipersiapkan dan dipergunakan untuk mencari uang, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan. Bagi yang kebutuhannya sudah terpenuhi, bagaimana caranya memiliki uang untuk memenuhi keinginan. Bagi yang keinginannya sudah terpenuhi, bagaimana caranya memiliki uang untuk memenuhi keinginan yang lain lagi yang tentunya lebih menyenangkan, lebih membanggakan, lebih nyaman, lebih menggairahkan dan lebih-lebih yang lainnya menurut anggapannya. Akhirnya uang yang berkuasa, kehormatan dinilai dari uang, dinilai dari kepemilikan harta benda. Saat uang berkuasa, kebenaran dan keadilan tetap bernama kebenaran dan keadilan, namun tidak bermakna hakiki sebagai sebenar-benarnya kebenaran dan keadilan.

Kembali lagi ini tentang saya….

Diam-diam uang sudah menjadi tuhan dalam hati saya.

Salah satu diri saya ingkar, “TIDAK, tuhan saya Gusti Allah !”

Namun di saat yang sama, bagian diri saya yang lain mencibir sinis, “Preketek ! Tuhan itu yang memiliki porsi terbesar dalam hidupmu, yang DIA engkau utamakan dan pertamakan, sudahkah demikian ?”

“Tapi saya kan tidak pernah sekali pun menganggap uang itu sebagai tuhan.”

“Ya, engkau memang tak pernah menganggapnya sebagai tuhan, namun apa yang ada di balik perasaan dan pikiranmu itulah yang menempatkan uang sebagai tuhan.”

“Apa buktinya :”

“Selama ini uang engkau posisikan sebagai sebab bukan sebagai akibat. Uang bagimu menjadi sebab sehingga dirimu bisa ini dan itu, padahal sebenarnya uang itu hanya sebagai akibat dari rahmatNya Gusti Allah kepadamu. Kalau pun toh engkau memposisikan uang itu sebagai akibat, maka kesadaranmu mengatakan bahwa sebabnya adalah kepandaianmu, keahlianmu, ilmumu, prestasimu dan mu-mu yang lainnya, padahal semua itu sebenarnya juga sebagai akibat dari rahmatNya Gusti Allah kepadamu.”

“Tapi aku kan tetap shalat, dzikir, puasa, zakat dan sedekah ?”

“Sahalatmu tak kunjung memuliakan aklaqmu, dzikirmu tak juga menentramkan jiwamu, puasamu tak membaikkan taqwamu, zakatmu terpaksa, sedekahmu kau jadikan ajang perdagangan untuk urusan duniamu Engkau tak benar-benar menghadap, bahkan lebih sering membelakangi Gusti Allah saat engkau shalat, dzikir, puasa, zakat dan sedekah.”

“Tapi bukankah bekerjaku juga merupakan perintahnya, mencari rejekinya di seluruh permukaan bumi ?”

“Kau tahu itu, tapi tanpa kau sadari. Buktinya saat engkau berusaha dalam sarana penghidupanmu, hatimu sering dikuasai oleh ketamakan yaitu hasrat dirimu untuk memperoleh uang dan kecenderungan hatimu kepadanya, karena engkau tidak yakin akan jaminan bagianmu dari Gusti Allah.

Sering juga engkau merasa penat dalam mencari uang, badanmu lelah hingga lalai menjalankan berbagai perintah-Nya, risaunya hatimu tentang uang menenggelamkanmu di dalamnya tanpa memperhatikan hal lain hingga memutuskan hubunganmu dengan Gusti Allah, khususnya dan terutama hal itu melandamu saat engkau membutuhkan sesuatu dengan sangat untuk menjaga kelangsungan hidupmu.

Tak jarang engkau pun merendah kepada makhluk karena kurang yakinmu kepada Gusti Allah dan hatimu ikut mengatur berbagai cara untuk mendapatkan uang dengan lintasan nafsu pikiranmu yang terus menerus mengatakan tentang harus memiliki ini agar ini, harus dari sini dan begini dan seterusnya.”

… sesaat hang …

“Saat uang sudah di genggaman tanganmu pun engkau sering dilingkupi sifat kikir. Kikir terhadap apa yang sudah engkau miliki hingga enggan mengeluarkan yang sudah diwajibkan seperti zakat, sedekah yang diwajibkan Gusti Allah yaitu menafkahi kedua orang tua, anak serta istri. Juga kikir untuk selain yang sudah diwajibkan, termasuk kikir terhadap diri sendiri dalam arti tidak mau berkorban untuk Gusti Allah.

Dan yang lebih kentara engkau bertuhan uang adalah vibrasi perasanmu sesuai penguasaanmu atas uang dan seluruh keturunannya dalam arti segala bentuk materi yang engkau dapat atas transaksi uangmu. Engkau selalu berduka atas apa yang luput dan bergembira terhadap apa yang engkau dapatkan. Semestinya, keyakinanmu terhadap Gusti Allah tidak akan membuatmu bergeser dalam menyikapi keadaan yang engkau alami. Tampaknya engkau cukup dengan Allah, nyatanya engkau merasa cukup dengan usahamu semata. Kelihatannya engkau gembira bersama Allah, ternyata engkau hanya gembira dengan keadanmu saja. Nyatanya, engkau tidak lagi merasa senang ketika keadaanmu yang menyenangkan itu tiada. Seandainya engkau benar-benar senang bersama Allah, tentu engaku akan senang pula selamanya bersama kebadian-Nya.”

… lebih hang lagi …

Namun satu bagian diri saya yang raja ngeyelrupanya masih ngeyel lagi, “Tapi uang kan penting !”

“Jangan mengelabuhi hatimu sendiri, siapa yang bilang uang tidak penting ? Meski uang bukan segalanya, namun tanpa uang segalanya menjadi lebih sulit. Uang memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah apa yang dibalik uang itu, sikap hatimu, pola pikirmu dan vibrasi perasaanmu tentang uang itu.

Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa misi hidupmu untuk mengabdi padaNya dengan mengabdi pada kehidupan ini dengan jalan menebarkan rahmatNya untuk semesta. Uang merupakan salah satu bentuk rejeki dariNya dan itu rahmatNya. Tugasmulah untuk mentransformasikan rahmat menjadi berkah, mentransformasikan bentuk materi uang dan seluruh keturunannya menjadi cahaya, cahaya pengabdian kepadaNya. Buka DIA, Gusti Allah yang malah engkau suruh mengabdi kepada kepentinganmu, hasrat nafsumu yang takkan pernah ada habisnya. Maka banyak uang itu harus tetapi tanpa melekat padanya sedikitpun.”

Penat rasanya terus menerus berbicara dengan diri sendiri, ada keinginan untuk mengikuti yang benar, baik dan indah, namun di saat yang sama pada sisi yang lain ada pula dorongan untung mengingkari semua itu karena rasa malu pada diri sendiri mengakui wajah diri yang masih belepotan noda dan dosa. Selama ini rupanya saya lebih sayang pada uang dari pada TUHAN. Lebih menyesal kehilangan uang dan seluruh keturunannya dalam bentuk materi dari pada kehilangan Gusti Allah. Benar-benarkuoplakkkkk.

Saya jadi berpikir, apakah saya saja yang demikian, ataukah Panjenengan semua sedikit banyak juga mengalami hal yang sama ?

Uang menjadi tuhan kecil dalam hati saya, sebab diri saya melekat terhadap uang dan itu termasuk “klenik”, berarti perlu terapi untuk melepaskan kemelekatan dengan uang tersebut.

KIra-kira begini yang saya pikirkan :

Kalau uang saya transaksikan kemudian saya mendapatkan sejumlah barang atau jasa sesuai nilai uang tersebut, maka hal itu merupkan suatu kewajaran, biasa dan benar. Ada unsur imbal-balik dan aksi-reaksi. Berarti belanja tidak bisa dijadikan terapi untuk melepaskan kemelekatan terhadap uang tersebut.

Kalau uang itu saya zakatkan sesuai ketentuan, saya rasakan juga biasa dan benar, karena itu memang diwajibkan. Bahkan andai enggan berzakat pun, terpaksa akan saya lakukan karena kewajiban. Melakukan karena memang wajib, rasanya masih belum bisa dijadikan untuk melepaskan kemelekatan terhadap uang.

Berarti harus setingkat di atas itu, tidak wajib dilakukan, bukan saja benar tetapi juga baik, yaitu infaq atau sedekah. Tapi saat melakukan itu, masih saja tergambar tentang fadhilah infaq atau pun sedekah yang saya lakukan, belum bisa ikhlas. Apalagi kalau teringat metode sedekah ekstremnya salah satu ustadz selebritis negeri ini, ngeri. Sedekah pemancing rejeki, tambah lebih banyak unsur imbal-balik, untung-rugi dan jual-belinya. Salah menata niat malah akibatnya runyam, bukannya  mengabdi kepada Gusti Allah, tetapi malah mengabdi pada diri sendiri demi kepentingan perut sendiri agar rejeki lancar jaya. Infaq dan sedekahpun belum cukup ampuh sebagai terapi untuk melepaskan kemelekatan terhadap uang.

Lalu apa ?

Jadi ingat tentang bumi dan matahari. Bumi berputar pada porosnya dan berrevolusi terhadap matahari adalah demi perputaran dan revolusi itu sendiri yang merupakan ketundukannya sebagai hamba, demi mengabdi padaNya tanpa memperdulikan baik atau buruknya manusia yang menginjak tanahnya. Begitu pun matahari, dia begitu setia menyinari galaksinya tanpa pertimbangan siapa yang disinarinya, semata-mata demi penyinaran itu sendiri sebagai sebuh ketundukan akan pengabdian di hadapanNya. Itulah hakikat dharma makhluk di hadapan TUHANnya.

Itulah mungkin terapi yang paling pas pada jaman ini untuk melepaskan kemelekatan diri saya terhadap uang, agar saya tidak “nglenik” dengan menjadikan uang sebagai tuhan kecil di dalam hati saya. Harus berlatih siap secara ajeg mengeluarkan uang dari saku atau dari dompet atau dari rekening bank yang sementara menjadi "milik" saya untuk siapa pun walau dia atau mereka tidak berkekurangan sekali pun, tanpa pernah berpikir atau mempertanyakan untuk apa dan akan dibagaimanakan uang itu nantinya. Mengeluarkan ya mengeluarkan saja tanpa pamrih apa pun dan tanpa pertanyaan apa pun, begitu saja titik. Itulah dharma, itulah pengabdian kepadaNya dengan melayani mereka yang bisa menjadi “sebab” diterimaNya pengabdian kepadaNya, Gusti Allah. Saya kira untuk yang terakhir ini bukan saja benar, tetapi juga baik dan sekaligus indah.

Dharma itu bukan zakat, bukan infaq dan juga bukan sedekah. Dharma itu menyerap rahmatnya Gusti Allah dan mentransformasikan menjadi berkah untuk semesta bukan untuk diri sendiri dan berarti juga mentransformasikan materi menjadi cahaya, sehingga dharma itu  melayani bukan dilayani, mengabdi dan bukan bukan diabdi. Inilah surga, yang akan mengawali tentramnya jiwa, bangkitnya taqwa dan mulianya akhlaq.

#by : den Bagus.
#Semoga ada manfaatnya.
Mung SAK DERMO nglampahi perintahing Gusti, Ninggal laranganipun Gusti, Ngentosi di timbali Gusti...